PERIODE STASI MRICAN

     Berdirinya Stasi Mrican yang berkaitan erat dengan keberadaan Perguruan Tinggi Sanata Dharma di Mrican, adalah cikal bakal sejarah berdirinya Paroki Pringwulung. Pada tahun 1964, di sekitar kampus Universitas Sanata Dharma terdapat dua lingkungan (dahulu disebut "Kring") yaitu Lingkungan Mrican dan Lingkungan Kolombo yang merupakan wilayah Paroki Kristus Raja di Baciro bagian utara, dengan Pastor Kepala Paroki Romo Joanes Strommesand, SJ.

     Pada saat itu Universitas Sanata Dharma memiliki sebuah kapel yang oleh para pastor setempat secara rutin menyelenggarakan perayaan Ekaristi Harian dan Ekaristi Hari Minggu. Kesempatan tersebut telah dimanfaatkan oleh umat di sekitarnya untuk mengikuti perayaan Ekaristi di kapel tersebut, dengan demikian mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke Gereja Baciro. Inilah awal berdirinya Stasi Mrican. Dalam menjaga kontak dengan Paroki Baciro, sebulan sekali perayaan Ekaristi di Kapel Sanata Dharma dipimpin oleh pastor dari Paroki Baciro. Dengan adanya benih perkembangan umat Paroki Baciro bagian utara tersebut, Romo Joanes Strommesand, SJ mulai mengadakan pembinaan umat setempat agar menjadi stasi tersendiri, dengan harapan dikemudian hari akan berkembang menjadi sebuah paroki. Usaha ini diwujudkan antara lain dengan memberkati suatu ruangan di rumah keluarga Bapak A. M. Djajus menjadi kapel, untuk peribadatan dan sekaligus sebagai tempat pendidikan agama.

     Pada tahun 1967 terjadi pergantian Pastor Kepala Paroki Baciro dari Romo Joanes Strommesand, SJ digantikan oleh Romo Antonius Prodjosuto, SJ. Pergantian ini membawa perubahan kebijaksanaan dalam penggembalaan jemaat. Romo Antonius Prodjosuto, SJ menghendaki agar kegiatan di seluruh wilayah Paroki Baciro dipusatkan di gereja paroki. Ternyata perubahan kebijaksanaan tersebut tidak berjalan lama, di mana pada tahun 1970, Romo Antonius Prodjosuto, SJ sebagai Pastor Kepala Paroki digantikan oleh Romo Fransiscus Xaverius Tan Soe le, SJ. Pastor Kepala baru ini justru sangat menekankan agar kegiatan-kegiatan umat berkembang di lingkungan lingkungan. Kebijaksanaan tersebut kemudian diteruskan oleh pengganti beliau pada tahun 1977, yaitu Romo Aloysius Utoyo, Pr. Bahkan Romo Aloysius Utoyo, Pr. memberikan perhatian khusus pada kegiatan-kegiatan umat di Lingkungan Mrican dan Kolombo dalam pembinaan iman dan pengembangan umat. Seiring dengan berkembangnya jumlah umat. pada tahun 1978 kedua lingkungan tersebut dimekarkan menjadi beberapa lingkungan. Lingkungan Mrican dimekarkan menjadi 4 lingkungan, yaitu lingkungan: Mrican, Pringgodani, Karangasem dan Deresan. Perkembangan selanjutnya Lingkungan Kolombo dikembangkan menjadi 5 lingkungan, yaitu lingkungan: Kolombo, Demangan, Kepuh, Kuningan dan Ambarukmo.

     Kegiatan Kapel Sanata Dharma yang semula terbatas pada kegiatan Ekaristi saja. Seiring dengan perkembangan umat, kegiatan Kapel Sanata Dharma diperluas dengan pelayanan penerimaan sakramen-sakramen lainnya, yaitu: Sakramen Baptis, Komuni Pertama, Sakramen Tobat dan Sakramen Perkawinan. Pada tahun 1979 frekuensi Ekaristi Hari Minggu juga dikembangkan menjadi 2 kali yaitu pada Sabtu sore dan Minggu pagi. Kepengurusan Mudika di wilayah Paroki Baciro bagian utara dibentuk terpisah dari kepengurusan Mudika Paroki. Perkembangan umat dengan segala kegiatan ini menuntut cara penggembalaan dan pelayanan yang berkembang pula, maka pada tahun 1980 telah ditunjuk salah Seorang Pastor Sanata Dharma yaitu Romo Fransiscus Assisi Susilo, SJ, untuk membantu Pastor Kepala Paroki di Paroki Baciro bagian utara.

     Pada saat Romo Fransiscus Assisi Susilo, SJ memulai tugas pelayanan, beliau sangat merasakan bahwa umat dengan segala kegiatannya membutuhkan wadah untuk berkoordinasi. Menanggapi situasi ini maka dibentuklah "Dewan Stasi Mrican" dengan struktur seperti dewan paroki. Ketua Dewan Stasi ditunjuk Bapak Gregorius Agung Karyono. Dewan Stasi ini setiap saat bersidang dengan berpusat di Kapel Sanata Dharma. Pembentukan Dewan Stasi Mrican dengan segala kegiatannya ini membuktikan bahwa secara informal pada tahun 1980 telah berdiri "Stasi Mrican". Dengan persetujuan dari provinsial SJ, sejak tanggal 1 Juli 1981 keuangan Stasi Mrican dikelola sendiri oleh Dewan Stasi, dipisahkan dari keuangan Pastoran Sanata Dharma. Sejak saat itu Dewan Stasi membuat perencanaan anggaran pendapatan dan pengeluaran sendiri.

     Pada tahun 1982 dalam rangka penerimaan Sakramen Krisma, Romo Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang berkunjung ke Paroki Baciro, kesempatan ini digunakan oleh para wakil umat Stasi Mrican untuk berdialog dengan Romo Vikaris Jenderal dan mengemukakan keinginan agar Stasi Mrican ditingkatkan menjadi sebuah paroki. Keinginan tersebut ditanggapi secara positif dan secara resmi mendirikan Pengurus Gereja dan Papa Miskin Room Katolik (PGPM) di wilayah Gereja Santo Ignatius Mrican. Masih di tahun yang sama, para wakil umat berkesempatan bertemu dengan Provinsial SJ yaitu Romo Julius Darmaatmaja, SJ. Dalam pertemuan tersebut para wakil umat menyampaikan keinginan untuk dapat menggunakan Kapel Santo Ignatius Sanata Dharma sebagai Gereja Paroki kepada Romo Julius Darmaatmaja, SJ. Pada dasarnya beliau tidak keberatan, tetapi perlu dibicarakan dengan Yayasan Sanata Dharma.

     Dengan Surat Keputusan No. 002/II/1983, tanggal 1 Februari 1983, Pengurus Gereja Dan Papa Miskin membentuk Panitia Persiapan Pendirian Paroki Mrican dan sebagai Ketua ditunjuk Bapak Agustinus Tutoyo. Panitia ini mempunyai tugas utama untuk mempersiapkan pembangunan panti paroki dan pastoran termasuk pengadaan tanah dan dananya. Sementara itu permohonan penggunaan Kapel Ignatius Sanata Dharma sebagai gereja paroki oleh Dewan Pengurus Dan Kurator Yayasan Sanata Dharma telah dikabulkan sesuai Surat Keputusan No. 042/AK.84, tanggal 25 Juli 1984. Dilain pihak terjadi perkembangan umat dengan dimekarkannya Lingkungan Kepuh menjadi Lingkungan Kepuh dan Lingkungan Samirono dan ibu-ibu Stasi Mrican juga membentuk kepengurusan tersendiri.

     Setelah enam tahun menjabat sebagai Pastor Stasi, pada tahun 1986 Romo Fransiscus Assisi Susilo, SJ mendapat tugas belajar ke Amerika. Jabatan Pastor Stasi Mrican dilimpahkan kepada Romo Yohanes Madyasusanto, SJ Pada tahun yang sama juga Pastor Kepala Paroki Baciro digantikan oleh Romo Aloysius Wahya Soedibya, Pr. dengan dibantu Pastor Pembantu, Romo Petrus Soeprijanto, Pr. Pada saat itu pula terjadi pemekaran lingkungan yaitu Lingkungan Ambarukmo dimekarkan menjadi 2 lingkungan, wilayah sebelah utara Jalan Solo menjadi lingkungan Nologaten masuk Stasi Mrican dan lingkungan yang ada di sebelah selatan Jalan Solo menjadi Lingkungan Janti masuk Paroki Baciro.

     Pada tahun 1987, atas kesepakatan Paroki Banteng dan Paroki Baciro, Lingkungan Pringwulung yang semula termasuk wilayah Paroki Banteng, mulai saat itu bergabung dengan Stasi Mrican. Dalam perkembangan selanjutnya Lingkungan Pringwulung kemudian dimekarkan menjadi 3 lingkungan, yaitu Lingkungan Pringwulung 1, Lingkungan Pringwulung Il dan Lingkungan Pringwulung III. Dengan penggabungan tersebut Stasi Mrican telah memiliki 13 lingkungan, yaitu lingkungan: Nologaten, Mrican, Kolombo, Demangan, Pringgodani, Kepuh, Samirono, Kuningan, Karangasem, Deresan, Pringwulung 1, Pringwulung II dan Pringwulung III.

     Panitia Persiapan Pendirian Paroki Mrican yang berkarya sejak tahun 1983 telah berusaha untuk mendapatkan tanah dan dana guna membangun panti paroki dan pastoran. Panitia Persiapan Pendirian Paroki Mrican yang dipimpin Bapak Agustinus Tutoyo sejak tahun 1983 masa baktinya telah berakhir, sebagai penggantinya ditunjuk panitia baru sesuai Surat Keputusan Pastor Kepala Paroki Baciro No. 001/Rm.P/SK.P/DPGKRB/V/89 tanggal 15 Mei 1989 tentang pengangkatan Panitia Pembangunan Gereja Mrican Masa Bakti 1989-1992 dengan Ketua Panitia Bapak Johanes Baptista Daliyo, SH. Tugas pokok panitia ini adalah membangun gedung gereja.

     Saat itu terdapat perubahan rencana, Kapel Sanata Dharma sudah tidak lagi akan digunakan untuk gereja paroki, karena kebijaksanaan baru dari Yayasan Sanata Dharma bahwa sejak 31 Desember 1994 Kapel Sanata Dharma hanya akan digunakan khusus untuk kampus dan mahasiswa Sanata Dharma. Bersamaan dengan itu Keuskupan Agung Semarang telah berhasil menyediakan sebidang tanah di Pandean, Condongcatur, Depok, Sleman, seluas 3165 m2 untuk pembangunan Gedung Gereja Stasi Mrican. Namun Panitia mengalami kendala mendapatkan ijin prinsip mendirikan gereja di Pandean tersebut.

     Pada tahun 1993 terjadi penggantian pejabat Bupati Sleman. Pada kesempatan tersebut Panitia Pembangunan Gereja menghadap Bupati baru yaitu Bapak Drs. Arifin Ilyas menyampaikan kebutuhan umat katolik Desa Condongcatur dan Desa Caturtunggal Sleman untuk mendirikan tempat ibadah. Pada kesempatan itu disampaikan pula masalah kesulitan dalam proses mendapatkan ijin prinsip. Bapak Bupati ternyata tanggap dan menaruh perhatian besar atas keinginan umat katolik Stasi Mrican.

Beliau menyarankan agar diadakan pemindahan lokasi pembangunan gedung gereja dari Pandean ke lokasi baru yaitu di Pringwulung yang mayoritas penduduknya beragama katolik. Proses tukar guling tanah kas desa yang terletak di Pringwulung dengan tanah milik gereja di Pandean dijanjikan akan dibantu diusahakan oleh Bupati Sleman. Dewan Stasi dan Panitia setuju atas saran Bupati tersebut, maka terjadilah proses tukar guling tanah dan lokasi pembangunan gedung gereja dipindahkan di Pringwulung. Selanjutnya panitia dengan dibantu seluruh umat, bekerja keras menghimpun dana untuk pembangunan gedung gereja.

     Bersamaan dengan peristiwa tersebut di atas, Panitia Pembangunan Gereja Periode Tahun 1989-1992 masa baktinya telah berakhir dan digantikan oleh Panitia Pembangunan Gereja Periode Tahun 1993 1996. Bapak Johanes Baptista Daliyo, SH telah ditunjuk kembali sebagai ketua panitia periode Tahun 1993 1996. Pada tanggal 10 April 1994 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama oleh Bupati Sleman, Bapak Arifin Ilyas, sebagai tanda dimulainya pembangunan Gedung Gereja Stasi Mrican di Pringwulung. Perencanaan pembangunan dipercayakan kepada tim ahli dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang dipimpin oleh Bapak Ir. A. Atmaji dan sebagai pelaksana pembangunan telah ditunjuk Bapak A.M. Djajus, beliau berdua adalah umat Stasi Mrican. Adapun gambar desain dikerjakan oleh Bapak Y Paryono.

     Sejak bulan September 1994 Romo Johanes Madyasusanto, SJ tidak lagi menangani Stasi Mrican. Penggembalaan umat langsung di bawah koordinasi Pastor Kepala Paroki Baciro, Romo Johanes Murtono Harjoyo, Pr. yang kemudian digantikan oleh Romo Fransiscus Xaverius Wiyono, Pr. dan dibantu oleh Romo Simon Atas Wahyudi, Pr. Sejalan dengan pembangunan gedung gereja tersebut di atas, penyiapan umat juga diantisipasi. Berkat dukungan seluruh umat dan semua pihak, baik dalam pengumpulan dana dan sumbangan berupa moril dan materiil lainnya, pembangunan Gedung Gereja Stasi Mrican di Pringwulung telah berjalan dengan baik dan lancar Setelah berlangsung dua tahun, di penghujung tahun 1996 pembangunan fisik gedung gereja relatif telah selesai. Berdasarkan hasil kesepakatan umat Stasi Mrican dan Panitia Pembangunan Gereja, telah ditetapkan Santo Yohanes Rasul sebagai Pelindung Gereja dan sesuai domisili gedung gereja dan sekaligus apabila kelak menjadi paroki maka telah dipersiapkan nama paroki, yaitu "Paroki Pringwulung"

 

PERIODE PAROKI ADMINISTRATIF PRINGWULUNG

     Pada tanggal 27 Desember 1996 telah turun surat keputusan Stasi Mrican statusnya ditingkatkan menjadi Paroki Administratif Santo Yohanes Rasul Di Pringwulung, di bawah koordinasi Paroki Baciro. Seiring dengan keputusan tersebut, Romo Simon Atas Wahyudi ditetapkan sebagai Pastor Kepala Paroki Administratif. Pada tanggal 27 Desember 1997 diadakan peresmian dan pemberkatan Gereja.

     Berdirinya Paroki Administratif Pringwulung, ikut berpengaruh atas pembagian wilayah penggembalaan yang sudah terbentuk, dengan demikian diperlukan penataan kembali atas pembagian wilayah. Dalam rangka penataan ini dilaksanakan komunikasi dengan paroki Minomartani, Banteng, Kotabaru, dan Baciro. Dalam proses komunikasi tersebut, umat Lingkungan Demangan yang semula masuk Stasi Mrican telah memilih masuk ke Paroki Baciro, sehingga yang masuk Paroki Administrasi Pringwulung "hanya" ada 12 lingkungan, yaitu lingkungan: Nologaten, Mrican, Kolombo, Pringgodani, Kepuh, Samirono, Kuningan, Karangasem, Deresan, Pringwulung I, Pringwulung II dan Pringwulung III. Selanjutnya pada tahun 1998, Lingkungan Ngropoh yang sebelumnya masuk wilayah Paroki Banteng, telah bergabung dengan Paroki Administrasi Pringwulung. Dengan peristiwa tersebut jumlah lingkungan kembali menjadi 13 lingkungan. Kebersamaan dengan semangat pelayanan, persahabatan dan persaudaraan dalam melaksanakan kehidupan sebagai murid-murid Kristus terus berkembang. Personil dan reksa pastoral Dewan Paroki Administratif mulai dipersiapkan dan dilengkapi sesuai PDDP Tahun 1987. Pelayanan dan pembinaan iman serta kegiatan umat semakin berkembang.

 

PERIODE PAROKI PRINGWULUNG

     Pada tanggal 26 Desember 1998, Monsinyur Ignatius Suharya selaku Kepala Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang telah menerbitkan Surat Keputusan Pendirian Paroki No. 878/B/I/B/89, yang menetapkan berdirinya Paroki Santo Yohanes Rasul Di Pringwulung, Yogyakarta sebagai berikut:

     Mendirikan paroki baru yang bernama: "Paroki Santo Yohanes Rasul" di Pringwulung, Yogyakarta.

Wilayah teritorial Paroki seluas 22,6 km², meliputi wilayah kecil Kodya Yogyakarta dan bagian lainnya Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, yang berbatasan dengan:

·         Di sebelah Utara : Jalur Lingkar/Ring-road Utara, berbatasan dengan Paroki Banteng-Condongcatur-Minomartani.

·         Di sebelah Selatan : Jalan Solo/Urip Sumohardjo, kecuali Demangan, berbatasan dengan Paroki Baciro.

·         Di sebelah Barat  : (membujur ke utara) Sungai Belik Pace, Klebengan, Karanggayam dan Gandok.

·         Di sebelah Timur  : Jalan Perum Condongcatur.

Surat Keputusan berlaku sejak tanggal 27 Desember 1998.

Dengan demikian Paroki Pringwulung, Yogyakarta secara formal dan definitif berdiri sejak tanggal 27 Desember 1998.